Studi Lapang 2012

26-30 Nov 2012 – Setelah tahun lalu sukses melaksanakan Studi Lapang di Kudus dan Jogja, November kemarin mahasiswa dan mahasiswi Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian kembali melaksanakan STULA (Studi Lapang) 2012 yang dilaksanakan di tiga wilayah sekaligus, yakni Lumajang, Jember dan Pulau Bali. Acara yang dilaksanakan selama 4 hari – 3 malam ini diawali dengan upacara pemberangkatan yang dilakukan tepat didepan kampus Universitas Trunojoyo Madura sekitar pukul 23.00 WIB. Kurang lebih 85 mahasiswa dan dosen Prodi Agribisnis diberangkatkan menggunakan 2 armada bus.

Keesokan harinya sekitar pukul 08.00 WIB rombongan tiba di Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Persada Nusantara, tepatnya di Desa  Kudus, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang – Jawa Timur. Para mahasiswa ditunjukkan berbagai macam tanaman dan hewan ternak yang telah dibudidayakan seperti padi, sayur-sayuran, hingga berbagai macam buah-buahan. Selain itu juga terdapat hewan ternak seperti kambing etawa, kelinci, dan beberapa hewan ternak lain yang juga dikembangkan dengan baik di disini. Berternak dimaksudkan karena tanaman yang dibudidayakan adalah kebanyakan tanaman bervarietas organik tanpa bahan kimia (anorganik), sehingga dengan berternak kambing dan hewan ternak lain akan memangkas ongkos budidaya tanaman-tanaman tersebut sekaligus menjaga kualitas dari tanaman yang sedang ditanam.

Para mahasiswa dikumpulkan ke sebuah aula sederhana beratapkan jerami yang dekat areal persawahan milik P4S. Ditempat tersebut mereka diberikan berbagai informasi tentang P4S Persada Nusantara dan motivasi akan pentingnya dunia pertanian bagi kehidupan manusia. Sehingga diharapkan para mahasiswa lulusan prodi agribisnis yang sudah ‘digodog’ dengan matang melalui mata kuliah pertanian saat berkuliah ini setelah lulus nantinya bisa sukses menjadi wirausahawan pertanian.

Setelah puas dengan informasi yang disajikan, para mahasiswa kemudian diajak berkeliling ke lahan persawahan milik P4S yang sangat luas untuk melihat berbagai aktivitas yang dilakukan oleh para petani sekaligus bertanya-tanya dengan mereka. Dan kebetulan pada saat kunjungan petani sedang menanam buah melon.

Kunjungan dilanjutkan ke Kota Jember, tepatnya di UPT Pengujian Sertifikasi Mutu Barang – Lembaga Tembakau Jember. Lembaga yang khusus menangani tentang kelayakan dan mutu berbagai jenis tembakau ini merupakan salah satu lembaga milik pemerintah yang menaungi wilayah Jawa Timur, selain lembaga yang sama di Kota Surabaya. Dan dari sini para Mahasiswa Agribisnis dikenalkan berbagai macam metode yang dilakukan dalam menguji suatu tembakau apakah layak atau tidak untuk diproduksi. Para mahasiswa juga diajak untuk berdiskusi tentang rokok yang saat ini menjadi salah satu produk dari tembakau yang sangat dibatasi produksinya oleh pemerintah.

Dijelaskan oleh Ir. Desak Nyoman Siksiawati, .MMA selaku kepala UPT Pengujian Sertifikasi Mutu Barang – Lembaga Tembakau Jember, bahwa resiko dari merokok sebenarnya tidak seburuk seperti yang dikhawatirkan oleh masyarakat dan pemerintah saat ini. Apabila dilihat dari sisi terbalik, maka banyak sekali hal-hal positif yang didapat pada industri rokok. “Saya pernah mengamati daratan madura ketika musim kemarau tiba, mulai dari  Kabupaten Sumenep hingga ujung Kabupaten Bangkalan yang telihat hanyalah tanaman tembakau. Sekarang bagaimana kalau tembakau itu dilarang oleh pemerintah, mau dikemanakan nasib para petani tembakau itu?” Ujarnya.

Usai diskusi, mahasiswa diajak menuju ke suatu ruangan yang terdapat berbagai jenis tembakau. Mulai dari tembakau yang dipakai untuk bahan baku rokok kretek hingga tembakau untuk rokok cerutu bisa kita jumpai disini. Dan yang cukup membuat penasaran adalah disini terdapat suatu bahan penguji tembakau yang konon sangat mematikan apabila terhirup langsung oleh manusia, bahkan menurut Desak, bahan tersebut sudah pernah meracuni salah satu keluarga dari pegawai di UPT ini.

Hari kedua, kunjungan dilanjutkan ke sebuah kebun kopi di Pulau Bali, tepatnya di Kebun Kopi ‘I Love BAS’. Selain untuk edukasi, lokasinya yang berada di lereng-lereng pegunungan membuat kebun kopi ini dimanfaatkan juga sebagai tempat untuk berwisata (Agrowisata). Disini para mahasiswa bisa melihat secara langsung proses pembuatan Kopi Luwak yang konon harganya sangat mahal itu. Di kebun kopi ini rombongan juga disajikan dengan berbagai jenis kopi, mulai dari Ginseng Coffee, Vanilla Coffee, Robusta Coffee, Arabica Coffee, dan jenis kopi lainnya. Selain kopi, juga disajikan berbagai macam teh yang jenisnya lumayan asing didengar, seperti Lemon Tea, Rosella Tea,Ginger Tea, dan jenis teh lainnya yang kesemua bisa dirasakan di kebun teh ini.

Setelah lelah melakukan perjalanan, rombongan diajak mampir ke sebuah pasar seni yang menjual berbagai macam busana dan kerajinan tangan khas Pulau Dewata, yakni Pasar Seni Sukawati. Disini mungkin mahasiswa agribisnis yang sudah menempuh mata kuliah Komunikasi Bisnis akan ketahuan nilai yang sebenarnya :-P. Karena ditempat ini mahasiswa benar-benar ditantang oleh para pedagang yang berjualan, yakni dengan tawaran harga yang bisa mencapai empat kali lipat dari harga yang sepantasnya. “Sangat Fantastis, (harganya) seratus lima puluh ribu tapi kenanya cuman lima puluh ribu tok!” Kata salah satu mahasiswa yang baru saja keluar dari pasar. Jadi buat yang belum pernah datang ke pasar seni ini, bersiap-siaplah untuk merogoh gocek yang lebih dalam hanya untuk bisa membeli baju dengan kain yang cukup tipis ini.

Puas dengan berbelanja sekaligus menguji nyali, rombongan kemudian diajak ke tempat wisata yang cukup nikmat untuk mencuci mata, yakni di Pantai ‘Dream Land’. Batuan terjal, ombak yang keras, serta turis manca yang menyilaukan mata serasa memberikan isyarat salam kepada para mahasiswa yang baru saja menginjakkan di tanah Pecatu – Kuta yang indah ini. Pantainya yang menghadap kearah matahari terbenam ini akan sangat ramai oleh para wisatawan pada saat sore menjelang malam hari. Namun saat itu rombongan hanya diijinkan menikmati pantai ini sampai pukul 17.00 WITA.

Pantai yang ternyata diketemukan oleh wisatawan asal Australia pada tahun 1980-an ini setiap harinya tidak pernah sepi dari pengunjung, baik lokal maupun mancanegara. Diceritakan oleh si pemandu wisata di bus ke-2, konon pantai yang sangat indah ini tidak sengaja ditemukan oleh seorang wisatawan dari Australia yang sedang melancong di Pulau Dewata. Hal tersebut terjadi ketika si pelancong  yang juga seorang penggila surfing itu terkena ‘ombak gunting’ saat sedang berselancar di Pantai Kuta. Ombak jenis ini merupakan jenis ombak yang sangat ditakuti oleh para nelayan karena keganasannya dalam menggulingkan perahu. Oleh karena saking besarnya ombak ini, wisatawan tersebut kemudian termakan oleh ombak dan terbawa hingga ke tengah laut. Dengan berpegangan papan selancar yang masih melekat oleh sabuk pengaman pada kakinya, dia mencoba untuk tetap bertahan diatas air, meskipun akhirnya dia tidak kuat dan tak sadarkan diri.

Setelah lama terombang-ambing oleh ombak yang tak tentu arahnya, dia pun akhirnya tersadar. Dia tersungkur disebuah pantai yang sangat sepi dan nampaknya belum pernah dijajaki oleh manusia. Sempat saat itu dia merasa kalau dirinya sudah mati digulung oleh ombak yang ganas tadi. Namun dia mengindahkan perasaannya tersebut dan segera mencari orang untuk dimintainya pertolongan. Dan akhirnya dia pun menyadari bahwa ditempat tersebut tidak ada yang bisa menolongnya.

Disisi lain dari kejadian tadi, dia melihat pantai tersebut sangat indah, ombaknya pun sangat keras dan sangat menarik untuk dijadikan arena selancar. Pantainya yang menghadap ke arah barat juga sangat indah untuk dinikmati, yakni ketika sang surya akan menuju ke sarang tempat peristirahatannya, yang mana hal tersebut juga tidak sering dia lihat di tempat tinggalnya. Pengalaman yang sangat dramatis itu ditulisnya dalam buku yang berjudul ‘Dream Land’,  yang berarti pulau impian, dimana di pulau ini pelancong tersebut seperti bermimpi setelah terombang-ambing oleh kerasnya ombak laut dan seolah-olah dia sudah tidak berada didunia lagi ketika akhirnya dia bertemu dengan pantai yang saat ini terkenal dengan nama ‘Dream Land’. Begitulah cerita singkat yang kami kutip dari pemandu wisata.

 Perjalanan dianjutkan dengan sebuah pusat belanja oleh-oleh terbesar di pulau Bali, yakni ‘Krisna’. Berbeda dengan Pasar Seni Sukawati tadi, disini semua barang sudah diberi label harga, jadi tidak ada lagi kata tawar menawar. Beragam oleh-oleh bisa kita temui disini, mulai dari pakaian, kain batik, kerajinan tangan hingga makanan pun siap dibawa pulang dengan harga yang cukup terjangkau.

Hari ke tiga rombongan Mahasiswa Agribisnis Universitas Trunojoyo Madura diawali dengan kunjungan ke sebuah pura yang berada di tengah laut, yakni Pura Tanah Lot. Pura yang sangat dikeramatkan oleh Umat Hindu di Bali ini konon dibangun oleh seorang Pendeta Hindu dari Kerajaan Kediri.

Tanah Lot yang berarti sebuah pulau atau tanah yang berada di tengah laut  ini merupakan salah satu pura di Pulau Bali yang sangat dikeramatkan oleh pemeluk Agama Hindu, terutama di Pulau Bali. Ada beberapa hal mengapa pura ini bisa dikeramatkan, yakni karena adanya mitos mengenai naga sakti yang katanya dulu pernah berada ini, atau beberapa hal unik dan ganjil yang sampai saat ini masih bisa dirasakan oleh para pengunjung. Salah satu diantaranya adalah Ular Suci. Ular yang katanya berumur ratusan tahun ini bisa kita pegang langsung di lokasi. Namun pada saat kami mengunjungi tempat ular tersebut hanya dijumpai seekor ular kecil, dan katanya ular yang tertua tersebut masih tidur dan belum bisa diganggu. 😀

Tepat dibawah Pura Tanah Lot terdapat sebuah mata air suci, yang mana mata air tersebut rasanya tawar meskipun berada ditengah laut.  Selain itu ada beberapa larangan yang diberlakukan sebelum masuk ke sumber mata air dan pura ini, yakni wanita yang sedang datang bulan. Sedangkan untuk masuk ke Pura sendiri pengunjung diharuskan memakai pakaian adat khas Bali, jadi pengunjung dari UTM semuanya diijinkan masuk sampai di mata air, dan tidak sampai masuk ke pura.

Menjelang siang, rombongan langsung menuju ke sebuah museum pertanian, yakni Musem Subak. Museum ini menyimpan berbagai macam alat pertanian yang digunakan oleh petani di Pulau Bali. Alat yang disimpan di museum ini semuanya masih bersifat sederhana, yang mana dari beberapa alat ini masih digunakan oleh sebagian masyarakat di Bali hingga saat ini.

Subak sendiri merupakan sebuah sistem pembagian air oleh para petani di kalangan masyarakat Pulau Bali. konon sistem ini adalah salah satu sistem pengairan terbaik didunia dan sudah tercatat oleh UNESCO sebagai salah satu budaya asli Pulau Dewata. Pembagian air yang sangat adil dan ketat diterapkan disini. Hal ini tentunya untuk menciptakan kerukunan dan keadilan diantara para petani.

Di museum ini pengunjung diputarkan Film Dokumenter yang bercerita tentang asal usul Subak hingga sistem penerapannya saat di lapangan. Dan dalam film ini juga digambarkan betapa sistem organisasi yang diterapkan disini sangat ketat dan terorganisir. Seperti yang diperagakan dalam film bahwa ada sebuah tempurung yang diisi air sebagai indikator batas waktu toleransi bagi peserta rapat. Apabila terdapat peserta yang terlambat saat air di tempurung sudah habis, maka orang tersebut akan didenda sebesar 20 ribu atau sesuai perjanjian di organisasi. Selain itu juga ditunjukkan cara pembagian air yang diukur secara detail oleh petugas Subak, dan beberapa sistem lainnya

Berwisata ke Bali tak akan lengkap rasanya tanpa mengunjungi tempat belanja souvenir di ‘Pabrik Kata-kata Jogger’. Tempat souvenir yang satu ini bisa dibilang sangat unik dan begitu menarik untuk dikunjungi. Yang unik dan berbeda daripada yang lainnya adalah barang-barang yang tersedia disini bertuliskan kalimat-kalimat yang unik, menggelitik, dan motivatif. Dan yang paling membuat tertarik untuk membeli souvenir disini adalah produk ini hanya bisa dibeli di Pulau Bali.

Kita bisa melihat berbagai penghargaan yang telah diraih oleh Mr. Jogger sebagai pemilik dan pendiri Pabrik Kata-kata Jogger, seperti beberapa piagam dari Museum Rekor Indonesia, penghargaan dari berbagai ajang bisnis, artikel dari beberapa koran nasional dan internasional, dan masih banyak lagi yang lain. Banyak barang-barang unik yang bisa kita temui seperti sandal khas Jogger dalam ukuran raksasa, bemo merah yang ada tempelan sticker kata-kata jogger, Jam Dinding berlawanan arah, dan yang tidak kalah unik yakni 6 patung yang berjejer di sebelah kiri dan kanan pintu masuk, dan masing-masing patung bertuliskan anonim yang kurang lebih memiliki arti didalam tanda kurung berikut: JAHID (Jaga Hidung), JAKUP (Jaga Kuping), JAMUL (Jaga Mulut), JAMAT (Jaga Mata), JAPER (Jaga Perasaan), dan JAGIM (Jaga Image).

Perjalanan dilanjutkan ke sebuah danau yang berada di atas pegunungan di Kabupaten Tabanan –  Bali, danau tersebut bernama Danau Beratan – Bedugul. Udara dingin yang menyeruak sangat terasa sekali oleh para pengunjung begitu memasuki daerah ini. Airnya yang biru kegelapan serta kabutnya yang tebal juga terlihat menggumpal mengitari area danau.

Disekitar tempat wisata, kita bisa melihat keindahan panorama Bedugul dari tengah danau, yakni dengan menyewa perahu yang berjejer dengan berbagai macam jenis, mulai dari speedboat hingga perahu dayung bisa kita sewa dengan harga yang cukup terjangkau untuk wisatawan. Dan jika terlalu mahal dengan perahu, pengunjung juga bisa menyewa peralatan memancing lengkap dengan umpannya.

Puas berfoto-foto dan menikmati keindahan panorama Danau Beratan, rombongan pun bersiap-siap untuk meninggalkan Pulau Bali menuju Pulau Madura. [s@njuu]

2 thoughts on “Studi Lapang 2012

  • December 27, 2012 at 23:04
    Permalink

    bagus ya artikel ini siapa ya yang buat…?

  • January 18, 2013 at 08:30
    Permalink

    apa sih bedanya alat pertanian yang digunakan oleh petani di Pulau Bali dgn yg lainya???

Comments are closed.

Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu