STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI PERKEBUNAN GUNA MENDUKUNG PENGEMBANGAN EKONOMI MASYARAKAT (Studi Kasus di Kabupaten Tulungagung-Jawa Timur)1

Atifitas dalam bidang pertanian, sebagaimana yang dinyatakan Todorova dan Ikova (2014) memiliki 3 fungsi utama yaitu green function, blue function, red function dan yellow function. Green function diartikan bahwa pertanian memiliki fungsi konservasi. Sedangkan blue function dimaknai bahwa pertanian mampu memperbaiki tata kelola air. Sementara red function lebih mengacu pada pemanfaatan sebagai energy. Sedangkan yellow function bermakna bahwa pertanian mampu memberdayakan kehidupan masyarakat. Sementara itu pertanian hingga saat ini juga masih dipercaya menjadi sektor yang mampu menggerakkan perekonomian Indonesia dan mampu mengentaskan dari kemiskinan. Hal ini dapat dimaklumi mengingat sesuai data Susenas 2012 menunjukkan bahwa 63,43% masyarakat miskin Indonesia ada di wilayah pedesaaan yang notabenenya bergerak di bidang pertanian. Menjadi hal yang sangat wajar ketika kemudian pertanian menjadi sector yang layak diperhatikan dalam upaya pengentasan kemiskinan.

Salah satu sub-sektor pertanian yang dirasa perlu diperhatikan adalah sub sector perkebunan. Komoditas tanaman perkebunan terdiri atas tanaman tahunan maupun tanaman semusim (Susilowati, 2009). Dalam hal pengembangan pertanian termasuk komoditas perkebunan, konsep pembangunan kawasan pertanian hingga saat ini dipercaya sebagai suatu cara pandang yang tepat untuk mengingkatkan perekonomian masyarakat di suatu kawasan. Dalam konsep ini, terdapat sentra-sentra pertanian yang terkait secara fungsional dalam kegiatan produksi suatu jenis pertanian unggulan (Permentan no. 50/tahun 2012). Lebih jauh lagi, guna meningkatkan nilai  tambah produk pertanian khususnya perkebunan ini dibutuhkan usaha pengolahan yang efisien dengan pasar yang  baik.  Sehingga  dengan  demikian perlu diciptakan kawasan agroindustri pengolahan sebagai tempat terjadinya kerjasama antara petani penyedia bahan baku dan pengolahan serta pemasaran pengolahan produk pertanian untuk meningkatkan kegiatan ekonomi dan pendapatan di kawasan tertentu tersebut. Agroindustri mampu menstranformasikan produk primer ke produk olahan (Suryana, 2005).

Kehadiran agroindustri pengolahan komoditas perkebunan ini akan memiliki kaitan ke belakang (backward linkage) berupa terserapnya bahan mentah hasil pertanian guna diolah menjadi produk olahan. Demikian juga kaitan ke depan (forward linkage) berupa potensi hasil pengolahan hasil perkebunan. Hal ini tentunya akan memberikan efek yang sangat bagus dalam upaya peningkatan ekonomi masyarakat pedesaan.

Pada sisi lain Kabupaten Tulungagung adalah sebuah wilayah di Propinsi Jawa Timur yang memiliki potensi komoditas perkebuanan yang sangat besar. Tercatat terdapat 28.278,87 hektar. Tanaman perkebunana yang diusakan di wilayah ini juga beragam mulai dari kelapa, tebu, tembakau, cengkeh dan kakao. Besarnya potensi komoditas tanaman perebunan di Kabupaten Tulungagung ini sangat layak untuk dikembangkan.

Berdasarkan atas pemikiran ini maka perlu kiranya dirumuskan sebuah strategi upaya pengembangan agroindustri komoditas tanaman perkebunan di Kabupaten Tulungagung. Hal tersebut akan dicapai melalaui kajian terlebih dahulu terkait dengan (1) penentuan komoditas unggulan beserta lokasi pengembangannya; (2) faktor pendukung pengembangan agroindustri perkebunan unggulan dan (3) dan pengembangan produk komoditas unggulan.

Download lengkap

STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI PERKEBUNAN GUNA MENDUKUNG PENGEMBANGAN  EKONOMI MASYARAKAT (Studi Kasus di Kabupaten Tulungagung-Jawa Timur)1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu