Persepsi Petani Terhadap Nilai Lahan Sebagai Dasar Penetapan Lahan Pertanian Padi Sawah Berkelanjutan (Farmer’s Perception Of Land Value As The Basic Of Determining Wet Rice Field Sustainability)

Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan semestinya ditindaklanjuti implementasinya, dalam kenyataannya belum semua daerah melakukan. Jika tidak diwujudkan maka ketahanan pangan, khususnya beras di daerah hingga nasional akan terancam mengingat laju pengurangan lahan, pencetakan tanah sawah dan laju pertumbuhan penduduk tidak sebanding. Laju pengurangan lahan akibat alih fungsi disebabkan banyak faktor diantaranya persepsi petani terhadap lahan itu sendiri, karena itu dipandang perlu melakukan studi terkait dengan permasalahan ini. Studi yang telah dilakukan terhadap petani pada lahan yang sesuai untuk tanaman padi sawah di Kabupaten Bangkalan menunjukkan bahwa nilai lahan bagi petani sangat tinggi, namun ketidak-berdayaan petani terhadap tekanan menjadi pemicu alih fungsi dan alih kepemilikan. Tanah sawah merupakan “warisan” yang harus dipertahankan namun tingkat bersekolah formal, luas lahan 0,1-0.3 ha, sistem pengairan tadah hujan, tidak memiliki pekerjaan sampingan, pendapatan < 2 juta/bulan menjadi penyebabnya. Selain lahan sawah teknis dan setengah teknis pada tempat yang strategis, maka jika lahan tersebut harus dipertahankan untuk lahan pertanian padi sawah berkelanjutan, setelah diperhitungkan dengan kecukupan pangan dalam kurun waktu tertentu, maka diperlukan inovasi dan penguatan petani sebagai lembaga. Regulasi terhadap perlindungan lahan tersebut sangat diperlukan.

According to the wet rice field sustainability (The law number 41 2009) and food agriculture area sustainability (Government Regulations number 1 2011), they should be followed up their implementation. In fact, all districts have not done those two programs. If they do not be implemented, food sustainability, especially rice sustainability from district level through national level will be threatened due to land reduction rate, a number of wet rice field, and the population growth rate are not proportional. The land reduction rate caused by land shifting is influenced by farmer’s perception. It is neccessary to do research concerned in those problems. Many studies on the land that appropriate for rice have been done especially in Bangkalan district showed that the productivity of rice was high. Unfortunately, economic presure to the farmer become a trigger of function and ownership shifting. The study produces some results as follows. The wet rice field is part of heritage that must be kept. The area of land ownership is around 0,1 – 0,3 hectares. Most of farmers have low formal education. The irigation uses rain reservoir system. The farmers have no side job. Their income less than IDR 2 million each month. If the land has to be maintained for the wet rice field, it needs inovation and reinforcement to the farmers as an institution and also a regulation for land conservation.

Download pdf

Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu