Menjadi Sukses: Pentingkah IPK Yang Tinggi?

Saya merasa miris sekali dengan ke-GALAU-an teman-teman dan adik-adik belakangan ini. Curahan hatinya semuanya tertuang di status Facebook-nya. Mulai dari masalah pribadi ataupun keluarga semuanya tertuang habis habisan. Bahkan juga untuk urusan A3 sebagai seorang mahasiswa. A3 (Aktivis-Akademik-Asmara) memang menjadi trending topic kegalauan mahasiswa, tetapi yang paling banyak muncul sejak selesainya UAS kali ini adalah urusan akademik. Titik point-nya mengerucut pada tiga kata yaitu “NILAI, KHS, dan IPK”.

Oleh karenanya saya mencoba menuangkan pikiran saya lewat tulisan ini sebagai pencerahan bagi semuanya. Tulisan ini saya nukil dari berbagai tulisan bahkan ada juga yang “copy – > paste”. Tetapi harapan saya semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman, saudara, dan adik-adik. Sehingga tidak ada lagi kegalauan tentang akademik, dan Anda bisa fokus pada aktivitas semester selanjutnya dengan tidak menanggung beban di otak.

 IPK atau indeks prestasi kumulatif (GPA or grade point average) merupakan nilai akhir evaluasi seorang mahasiswa selama jenjang perguruan tinggi baik tahap sarjana maupun tahap doktoral. IPK menjadi tolak ukur kecerdasan akademik seseorang dalam bidang tertentu di kampus. IPK yang tinggi pun menjadi sasaran utama mahasiswa-mahasiswa agar memiliki akses yang lebih mudah dalam berbagai hal, dari perihal melamar beasiswa, program pertukaran pelajar, lamaran kerja di perusahaan bagus, melanjutkan jenjang lanjut hingga untuk “memuaskan” diri sendiri, orang tua ataupun sang pacar.

Namun kita harus mengakui bahwa kita cenderung (bahkan) hidup dalam dunia “dualisme”, selalu menemui hitam disamping putih, ada partikel ada gelombang, ada cinta dibalik benci, ada baik diantara buruk, dan begitu juga nilai IPK, ada tinggi ada rendah. Sehingga ketika seseorang memiliki IPK yang tinggi, maka pasti ada orang lain yang ber-IPK rendah. Hal ini semakin jelas tatkala sebagian dosen masih menggunakan sistem distribusi normal ataupun Gaussian dalam memberikan nilai-nilai mata kuliah kepada mahasiswanya (hmm, masih untung kalau menggunakan distribusi median di B).

Sehingga dalam hal ini, jika Anda memiliki nilai yang rendah pada mata kuliah khususnya dan Indeks prestasi (IP) secara umumnya, maka Anda tidak perlu berkecil hati. Karena IP bukanlah segala-segalanya untuk hidup. Begitu juga hidup bukan segala-segalanya untuk IP. IP memang penting dalam berbagai aspek, namun IP akan menjadi jauh berarti jika dipadukan dengan nilai-nilai kepribadian super. IP lebih menunjukan kecerdasan inteligensia yang belum cukup berarti dalam kehidupan sosial tanpa disertai kecerdasan kepribadian (emosional + spiritual).

 Berapakah “harga” IP ?

Dewasa ini, paradigma seseorang (terutama di Indonesia) untuk melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi adalah agar cepat lulus dan mencari kerja. Sedangkan aspek fundamental lain yakni menjadi peneliti (researcher), inventor ataupun inovator hingga entrepreneur dibidang profesinya menjadi tujuan yang langkah para mahasiswa. Seyogianya seorang sarjana mampu menciptakan lapangan pekerjaan sebagai bentuk kontribusi bagi perkembangan ilmu, teknologi dan ekonomi masyarakat dan bangsa. Namun, tampaknya banyak perguruan tinggi saat ini memiliki sistem akademik yang cenderung hanya menjadi institusi “penyalur kerja“.

Karena paradigma sebagian besar mahasiswa adalah lulus untuk bekerja, maka timbul pertanyaan, “seberapa pentingkah IP agar saya mendapatkan pekerjaan ?” Atau lebih detil lagi, “seberapa penting IP bagi karir pekerjaan saya?”.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita akan berbicara tentang realita mencari pekerjaan. Sempitnya lapangan pekerjaan dan luasnya job seeker membuat perusahaan-perusahaan semakin selektif dalam menyaring calon karyawannya. Seratusan ribu lebih lulusan sarjana dan diploma tiap tahunnya akan diseleksi dalam beberapa tahap. Dan tahap pertama adalah seleksi administrasi yakni IPK. Hampir semua lowongan kerja saat ini mensyaratkan pelamar kerja harus memiliki IPK minimal 3.00 (adakalanya 2.75). Jika Anda memiliki nalar dan kecerdasan yang bagus, namun IPK anda dibawah 2.75, maka lamaran Anda langsung dibuang jauh-jauh.

Jika Anda telah lulus seleksi administrasi (IPK), maka seleski tahap lanjut adalah psikotes, wawancara, dan adakalanya team building-problem and solving. Dua aspek akhir, wawancara dan problem solving yang komprehensif merupakan ajang menilai kepribadian ++ kita, dari nalar, logika, sikap, skill dan berbagai aspek problem solving. Aspek inilah yang sangat penting kedepannya ketika kita telah berada di perusahaan.

Hal inipun telah diteliti secara mendalam oleh National Association of Colleges and Employers (NACE), Amerika Serikat pada tahun 2002. NACE melakukan survei terhadap 457 pimpinan perusahaan mengenai karateristik unggul seorang calon pekerja. Dari survei tersebut, diperoleh 20 kepribadian unggul (Winning Charateristic) lulusan yang paling dicari oleh perusahaan (diurutkan berdasarkan skor tertinggi) yakni sebagai berikut :

  1. Kemampuan Komunikasi – 4.69
  2. Kejujuran/Integritas – 4.59
  3. Kemampuan Bekerja Sama – 4.54
  4. Kemampuan Interpersonal – 4.5
  5. Beretika – 4.46
  6. Motivasi/Inisiatif – 4.42
  7. Kemampuan Beradaptasi – 4.41
  8. Daya Analitik – 4.36
  9. Kemampuan Komputer – 4.21
  10. Kemampuan Berorganisasi – 4.05
  11. Berorientasi pada Detail- 4.0
  12. Kepemimpinan – 3.97
  13. Kepercayaan Diri – 3.95
  14. Ramah – 3.85
  15. Sopan – 3.82
  16. Bijaksana – 3.75
  17. Indeks Prestasi (>=3.0) – 3.68
  18. Kreatif – 3.59
  19. Humoris – 3.25
  20. Kemampuan Berwirausaha – 3.23

 Dari 20 karateristik unggul, “harga IP” jauh dibawah “harga kemampuan komunikasi”, bekerja dalam tim,etika, kejujuran. Tampaknya kejujuran lebih mahal daripada IP dalam dunia pekerjaan. Dalam hal ini, IP hanyalah menjadi kunci utama (password) memasuki dunia kerja (akan tetapi sebaiknya di atas 2.75 atau bisa di atas 3.0 ). Namun setelah masuk (log in) dan pintu telah terbuka, maka password IP sudah tidak dinilai tinggi lagi. Nilai-nilai kepribadian mentallah yang menjadi tolak ukur kita dalam meniti karir jangka panjang. Jadi, nilai IP hanya membawa short term succes (menjembatani dunia kerja), bukan long term succes (karir jangka panjang).

 Perpaduan Inteligensia (IQ) dan Kepribadian (EQ)

Dari 20 karateristik unggul yang dirilis oleh NACE, saya membaginya dalam dua bagian yakni bagian yang bercetak tebal (bold) dan bagian yang bercetak miring (italic). Karateristik yang bercetak tebal (bold) merupakan karateristik yang lebih mengandalkan kekuatan kepribadian mental atau emotional quotient (EQ), sedangkan bercetak miring (italic) lebih mengandalkan kecerdasan nalar dan logika (IQ). Dari 20 karateristik tersebut, ternyata karateristik yang bercetak tebal (bold) alias EQ lebih dominan menentukan kesuksesan seseorang dibanding kekuatan IQ-nya dalam hal ini IP. Jadi, EQ kelihatannya memang jauh lebih penting dibanding IQ. Namun, ini bukan berarti IQ tidak penting. IQ dan EQ merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Jadi kecerdasan IQ yang direpresentasikan IP bukanlah tolak ukur utama keberhasilan kita dalam dunia kerja khususnya maupun dunia kehidupan kita secara umum. Dalam kecerdasan IQ, hal yang sangat diperlukan adalah ketajaman nalar, logika, inovasi dan kreasilah yang akan digunakan sepanjang hidup kita. Umumnya nilai kecerdasan nalar, logika, inovasi berbanding lurus dengan nilai IP (namun tidak selalu).

Menjadi Pribadi Sukses

Jika kita membaca hasil penelitan NACE tersebut dan disertai dengan sejumlah cerita keberhasilan orang-orang super, maka selalu ada kata kunci yang selalu mereka sampaikan yakni kerja keras, dorongan (motivasi), do’a, integritas dan disiplin yang semuanya merupakan kecerdasan mental. Sedangkan kecerdasan IQ atau bakat bukanlah senjata utama mereka yang telah sukses. Banyak entrepreneur yang sukses tanpa menyelesiakan pendidikan formal seperti Bill Gates, Matthew Mullenweg, Eka Cipta, Sudono Salim, Tukul dan masih banyak lagi.

Mereka berhasil, karena mereka berusaha dan bekerja keras dengan pekerjaan mereka, terutama pekerjaan yang disukainya. Mereka bekerja tanpa ada desakan atau ancaman, namun mereka bekerja dengan semangat dan sukarela. Hal-hal ini menimbulkan emosi-emosi positif yang akan mentriger kecerdasan emosional kita. Nilai-nilai positif ini akan muncul dan dapat mempengaruhi kecerdasan inteligensia kita. Jika batin dan emosi kita lagi ceria dan bahagia, maka sangat mungkin sekali timbul ide, nalar ataupun kreasi yang unik dan dashyat.

Akhir kata, pergunakan waktu untuk membentuk mental atau emosi positif, baik Anda sebagai mahasiswa ataupun setelah bekerja. Karena emosi positif (integritas, communication skill, etika, sopan) merupakan kunci-kunci yang membawa sukses dan men-triger kecerdasan nalar dan logika dapat berkembang lebih baik. Dan meskipun Anda bukan lulusan sarjan ataupun diploma, Anda pun dapat menjadi pribadi sukses. Karena sukses bukan semata dari sertifikat IP yang tinggi dari kampus.

Selanjutnya, apabila ada yang salah dari tulisan di atas, saya mohon maaf kepada Anda sekalian. Saya hanya mencoba berbagi pengetahuan yang saya ketahui dan tidak bermaksud menggurui. Apabila dirasa benar, mari kita berbenah dan apabila dirasa salah silahkan dikritisi. Kemudian saya juga mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada semua sumber yang telah saya baca, baik buku ataupun situs internet yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Tetaplah semangat belajar, semangat berorganisasi dan semangat untuk hal-hal positif demi masa depan. Niat, usaha, dan do’a selalu jadikan rangkaian “ritual” menuju sukses Anda. Usaha tanpa do’a itu nihil dan do’a tanpa usaha sama dengan nol.

 TAK ADA SUKSES LUAR BIASA, TANPA USAHA LUAR BIASA !

 ACTION GO TO SUCCES, DON’T BE GALAU ! (^_^)

 Salam Perubahan !!

By : Sugiarto , sugiksugiarto91@yahoo.com

2 thoughts on “Menjadi Sukses: Pentingkah IPK Yang Tinggi?

  • February 7, 2013 at 16:47
    Permalink

    yupz, bner bnget ittu . . .
    ^_^

  • February 7, 2013 at 23:23
    Permalink

    galau karna nilai itu dari sd mpe bangku kuliah juga terjadi, yang irosni lagi terjadi pada mahasiswa adalah galau gara2 putus cinta. beraninya bilang cinta, diputusin galau. gayanya pacaran kayak yang dah mau jadi suami istri aja, tapi diajakin kerja ogah2an, diajakin wiraushaa juga moh mohan….
    jadi mahasiswa jangan tanggung2. mau kuliah serap semua ilmu jangan galau sama pacaran aja……..

Comments are closed.

Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu